Dalam jurnal disebutkan bahwa Propolis dari Brazil mengandung :
flavonoid 70 g/kg, senyawa fenolik 134,4 g/kg, vitamin E 0,16 g/kg, total asam lemak tidak jenuh 420,3 g/kg, asam oleat 155,2 g/kg, asam linoleat 111 g/kg, asam linolenat 43,9 g/kg, asam miristoleat 42 g/kg, asam arakhidonat 53,6 g/kg dan asam nervonat 14,6 g/kg. Flavonoid (flavonol, flavon dan flavanon) yang terdapat dalam propolis berhubungan erat dengan aktivitas farmakologi dan aktivitas antioksidannya.
Keanekaragaman tumbuhan di suatu daerah berpengaruh pada jenis dan komposisi kandungan propolis, begitu juga dengan jenis tanaman yang menjadi sumber propolis. Birch propolis dari Rusia bersumber dari Betula verrucosa. Green propolis dari Brazil bersumber dari Baccharis sp.. Red propolis dari Kuba dan venezuela bersumber dari Clusia sp..
Propolis ada yang alami (natural) dan adapula yang berupa ekstrak alkohol. Dalam sebuah jurnal disebutkan bahwa propolis dari Brazil adalah alami.
Uji aktivitas dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etanol propolis dari Brazil memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi (signifikan) dibandingkan dengan BHT dan ekstrak PE, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan alfa-tokoferol.
Uji aktivitas dengan metode FTC menunjukkan bahwa esktrak etanol propolis dari Brazil memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan alfa-tokoferol dan ekstrak PE, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan BHT.
Ekstrak air propolis dapat menghambat perkembangan pembelahan sel tidak normal (misalnya sel McCoy, HeLa, SP2/O, HEp-2 dan BHK21) dan menstimulasi pertumbuhan sel normal (misalnya sel limposit manusia, sel ginjal tikus, sel hati tikus, dan sel limpa tikus). Uniknya, pertumbuhan sel normal berlangsung pada konsentrasi yang sama dengan konsentrasi penghambatan sel yang tidak normal.
Propolis juga memiliki aktivitas sebagai bakteriostatik dan bakterisida (terhadap Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Helicobacter pilori, Mycobacterium sp), fungistatik dan fungisida (terhadap dermatophytes, Aspergillus sulphureus), Virostatik dan virosida (terhadap herpes simplex, influenza, rhinovirus), antitumor (menghambat melanoma dan glioblastoma, mencegah karsinogenesis pada kolon, menekan adenovirosis tipe 5), antioksidan (penangkap radikal bebas, penghambatan lipooksigenase), penyembuh luka dan memperbaiki jaringan (pada dermatitis, tukak lambung, protektor hati), menekan replikasi HIV-1, antiparasit (pada tripanosomiasis dan giardiasis), antimutagenik, antiinflamasi (dengan pembanding diklofenak dan hidrokortison, dengan metode eksperimen tertentu), untuk penyakit ISPA, dan immunomodulator.
Gunakanlah propolis alami untuk keperluan membunuh kuman yang menyerang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar