Jika ahli gizi meminta kita mengurangi asupan lemak, kita otomatis hanya berpikir mengenai lemak jenuh. Anjuran "pengurangan" ini sebenarnya berlaku bagi semua jenis lemak, termasuk lemak tak jenuh ganda.
Dalam upaya mengurangi asupan lemak jenuh, orang seringkali mengganti minyak apapun yang berasal dari hewan. Akan tetapi, banyak minyak nabati tidak lebih baik dari lemak hewani yang dengan mati2an kita hindari. Beberapa jenis minyak nabati bahkan lebih buruk.
Yang menyebabkan minyak memiliki potensi bahaya salah satunya adalah ketidakjenuhannya. Ikatan karbon ganda dalam molekul minyak tak jenuh ganda sangat rentan terhadap oksidasi dan pembentukan radikal bebas. Radikal bebas menurunkan simpanan antioksidan dalam tubuh dan menimbulkan reaksi kimia yang merusak jaringan dan sel.
Perubahan Asupan
Pernah dilaporkan bahwa tingkat kesehatan seluruh penduduk Tokelau sangat baik dibandingkan (standar) Barat. Tidak ada tanda2 penyakit ginjal ataupun hipotiroidis pada penduduk Tokelau. Tidak ada kolesterol tinggi. Semuanya bertubuh langsing dan sehat. Walaupun makanannya tinggi akan lemak jenuh, dan kenyataannya adalah populasi keseluruhan memiliki rasio berat terhadap tinggi badan yang ideal dibandingkan angka dalam Indeks Massa Tubuh yang digunakan oleh ahli gizi. Masalah pencernaan juga jarang ditemukan, konstipasi merupakan penyakit langka. Rata2 penduduk Tokelau buang air besar dua kali sehari. Aterosklerosis, penyakit jantung, radang usus, kanker usus besar, wasir, tukak lambung, divertikulosis, dan radang usus buntu adalah keadaan yang secara umum jarang ditemukan.
Migrasi (perpindahan) penduduk Tokelau ke Selandia Baru ternyata berdampak pada perubahan asupan lemak yang menunjukkan tanda2 meningkatnya resiko aterosklerosis. Migrasi ini juga memperlihatkan adanya penurunan yang nyata akan asupan lemak jenuh dari sekitar 50% menjadi 41% energi, kenaikan asupan kolesterol makanan menjadi 340 mg, dan kenaikan lemak tak jenuh ganda serta gula. Perubahan lemak yang terjadi diantaranya adalah meningkatnya kolesterol total, lebih tingginya LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta kadar HDL (kolesterol baik) yang lebih rendah.
Kolesterol darah penduduk Tokelau meningkat setelah pindah ke Selandia baru, walaupun terdapat kenyataan bahwa kandungan lemak total dalam makanannya menurun, dari 57% di Tokelau, dengan 80% diantaranya dari minyak kelapa, menjadi sekitar 43% di Selandia Baru. Di Selandia Baru mereka lebih banyak memakan roti putih, nasi, daging, dan makanan orang Barat lainnya serta lebih sedikit makan makanan kaya kelapa yang tinggi serat.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah diet yang tinggi lemak jenuh yang terdiri atas minyak kelapa tidak membahayakan kesehatan dan tidak menyebabkan aterosklerosis.
Orang yang mengkonsumsi minyak kelapa sebagai pengganti berbagai minyak nabati lain secara menakjubkan bebas dari penyakit degeneratif yang sangat umum di Barat. Mereka juga memiliki berat badan yang mendekati ideal dan tampaknya merupakan contoh kesehatan sempurna. Tetapi bila orang ini mengganti minyak kelapa dalam makanannya dengan minyak nabati lainnya (yang secara umum memuat banyak minyak tak jenuh ganda dan minyak hidrogenasi), maka kesehatannya akan menurun.
Berdasarkan keterangan2 ini, mari kita pelajari pola makan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar